$3%73.....Serasa d'Jepang

$3%73.....Serasa d'Jepang
$@ku%@

Kamis, 30 Juni 2011

KONSEP SIKAP DAN PERILAKU EMPATIK

KONSEP SIKAP DAN PERILAKU EMPATIK



Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Perkembangan Peserta Didik
Pengampu : Ibu Siti Mardiyanti



Di susun oleh :
1. Agnes Khoirhotul Nisa (K1209003)
2. Diah Ayu Juni M (K1209020)
3. Fondaline Sri H. (K1209031)
4. Satrio Jati W (K1209063)


PROGAM PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2010

BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG

Sikap adalah pandangan-pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak sesuai sikap objek tadi. Sikap dalam beberapa hal menyerupai motif atau dorongan, namun tetap ada perbedaan yang mendasar. Perbedaan utama berkenaan dengan jangka waktu yang berlangsung. Kekuatan suatu motif bergantung pada kondisi dorongan. Oleh sebab itu kejadian motif timbul tenggelam, dan timbul lagi. Sikap tidak ditandai oleh suatu dorongan, tetapi hanya menunjuk pada kemungkinan bahwa suatu motif tertentu dapat dibangkitkan.
Empati adalah kemampuan untuk berpikir dan merasa kehidupan dalam batin orang lain. Empati secara konseptual memiliki banyak definisi dan mencakup spektrum yang luas, mulai dari rasa kepedulian terhadap orang lain, keinginan untuk membantu mereka, mengalami emosi sesuai dengan emosi orang lain, mengetahui apa yang orang lain pikirkan atau rasakan, mengaburkan batas antara dirinya dengan orang lain.

2. PERMASALAHAN
a) Bagaimana konsep sikap ?
b) Bagaimana konsep dan perilaku mempatik?








BAB II
PEMBAHASAN
A.KONSEP SIKAP DAN PRILAKU EMPATIK
1. Konsep Sikap
Kepribadian sering kali diartikan sebagai baruan yang unik dan ciri-ciri fisik dan mental yang ada pada dalam diri seseorang. Kepribadian seseorang ada dalam benak orang lain. Bagaimana menafsirkan kepribadian Anda merupakan kunci untuk mengetahui bagaimana sebenarnya kepribadian Anda sendiri. Kepribadian Anda lebih terletak pada apa yang Anda tampilkan dan bukan pada bagaimana Anda memandang diri sendiri. Sikap begitu penting sehingga dapat lebih penting daripada karakteristik-karakteristik fisik dan mental dalam kepribadian.
Sikap dalam beberapa hal menyerupai motif atau dorongan, namun tetap ada perbedaan yang mendasar. Perbedaan utama berkenaan dengan jangka waktu yang berlangsung. Kekuatan suatu motif bergantung pada kondisi dorongan. Oleh sebab itu kejadian motif timbul tenggelam, dan timbul lagi. Sikap tidak ditandai oleh suatu dorongan, tetapi hanya menunjuk pada kemungkinan bahwa suatu motif tertentu dapt dibangkitkan.
Menurut Walgito (2004). Sikap mengandung tiga komponen :
a) Komponen Kognitif adalah komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakina, yang berkaitan dengan bagaimana orang mempersepsi objek sikap.
b) Komponen Afektif adalah yang berhubungan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap.
c) Komponen konatif adalah komponen yang berkaitan dengan kecenderungan untuk berprilaku terhadap objek sikap.
Diantara ketiga komponen tesebut dapat dijelaskan bahwa komponen sikap Afektif perlu mendapatkan penekanansecara khusus karrena sikap afektif ini merupakan sember motif yang terdapat dalam diri individu. Sikap belajar yang positif dapat disamakan dengan minat, sedangkan minat akan mempelancar jalannya siswa yang malas, tidak mau belajar dan gagal dalam belajar yang disebakan oleh tidak adanya minat. Siswapun mengambil sikap seiring dengan minatnya terhadap suatu objek. Siswa mempunyai keyakinan dan pendirian tentang apa yang seharusnya dilakukannya. Sikap itulah yang mendasari dan mendorong kearah perbuatan belajar. Dari pendapat diatas dapat dijelaskan bahwa munculnya sikap seorang siswa dapat dipengaruhi motivasi diiringi oleh minatnya terhadap suatu objek. Kemudian duyakini bahwa objek yang menarik minat siswa tersebut misalnya, terhadap proses pembelajaran di kelas akan menjadi dasar motivasi siswa sehingga akan menentukan sikap siswa itu untuk belajar.
Komponen kognitif atau komponen perseptual sikap yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakina, yang berkaitan dengan bagaimana orang mempersepsi objek sikap. komponen perkembangan kognitif yang ditinjau dari segi pengetahuan menjadi fokus utama karena perkembangan kognitif pmempengaruhi semua aktifitas belajar. Komponen ini memberi penekanan kepada pemupukan sikap positif terhadap pelajaran.
Secara garis besar komponen sikap kognitif ini berpengaruh terhadap komponen terhadap komponen afektif dan komponen emosional yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap suatu objek sikap. Kemudian sikap tersebut diaplikasikan dalam bentuk prilaku, yaitu komponen yang berkaitan dengan kecenderungan berprilaku. Komponen ini menunjukan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berprilaku seseorang trhadap objek sikap. Untuk melihat lebih lanjut mengenai sikap belajar sebenarnya ada sesuatu yang melatarbelakangi mengapa siswa mengambil suatu sikap tertentu. New Comb, Turner, dan Converse (1985) mengemukakan hal ini berkaitan dengan fungsi sikap, sebagai berikut :
a) Sikap sebagai instrument atau alat mencapai tujuan
Seseorang mengambil sikap tertentu terhadap objek atas dasar pemikiran sampai sejauh mana objek sikap tersebut dapat digunakan sebagai alat atau instrument untuk mencapai tujuan yang dicapai. Fungsi ini sering disebut fungsi sebagai fungsi penyesuaian karena dengan mengambil sikap tertentu seseorang akan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya.

b) Sikap sebagai pertahanan ego
Kadang-kadang orang mengambil sikap tertentu terhadap sesuatu objek karena untuk mempertahankan ego atau akunya. Apabila seseorang merasa egonya terancam maka ia akan mengambil sikap tertentu terhadap objek demi mempertahankan egonya.
c) Sikap sebagai ekspresi nilai
Sikap sebagai ekspresi nilai yang dimaksud ialah bahwa sikap seseorang menunjukkan bagaimana nilai-nilai pada orang tua. Sikap yang diambil seseorang mencerminkan sistem nilai yang ada pada diri orang tersebut. Siswa mempunyai sikap positif terhadap suatu objek yang bernilai pada pandangannya dan ia akan bersikap negative terhadap objek yang dianggapnya tidak bernilai dan tidak juga merugikan. Sikap ini kemudian mendasari dan mendorong kearah sejumlah perbuatan yang satu sama lainnya berhubungan.
d) Sikap sebagai fungsi pengetahuan
Bagaimana sikap seseorang terhadap sesuatu objek akan mencerminkan keadaan pengetahuan dari orang tersebut. Apabila pengetahuan seseorang mengenai sesuatu belum konsisten maka hal itu kan berpengaruh pada sikap orang itu terhadap objek tersebut.

2. Sikap positif dan kesuksesan
Sikap yang positif sangat penting dan begitu kuatnya sehingga dapt memperkuat cirri-ciri kepribadian. Kita tentu saja tidak dapt mengatakan bahwa sikap yang positif dapat menciptakan karisma tetapi sikap ini dapat mendekatinya. Seseorang yang mempunyai sikap yang positif dapat mengubah pribadi yang membosankan menjadi pribadi yang menyenangkan.
Para ahli memprediksi bahawa kesuksesan seseorang 80 persen ditentukan oleh sikap dan 20 persen bakat. Sikap mental yang positif dapat memperkaya kehidupan pribadi seseorang, seperti dalam hubungan dengan karirnya.
Sejalan dengan konsep sikap positif dan negative adalah sikap pesimis dengan optimis. Perbedaan antar sikap optimis dan posesif nampak bilamana individu dihadapkan dalam suatu kesalahan yang dilakukannya. Bagi individu yang pesimis mereka akan menyalahkan diri sendiri, sedangkan individu yang optimis menyerahkan sumber-sumber eksternalnya. Sikap pesimis cenderung mengabaikan diri sendiri dan bahkan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh mereka.
Mempertahankan mental positif akan memberi kekuatan untuk melakukan hal-hal yang penting dalam hidup. Jika ketidakbahagian ditingkat belajar atau lingkungan kerja sampai pada tataran kronis, anda barang kali mengalami kesulitan. Cara memaksimalkan di lingkungan pekerjaan atau belajar adalah melihat semua aspek-aspek pekerjaan atau tugas belajar dengan cara pandangn positif dan fokus.
Agar dapat memperoleh kehidupan yang dicitakan individu memerlukan antara lain : bagaimana menggunakan sikap mental yang positif untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, bagaimana mengubah sikap negative menjadi sikap positif, bagaimana sikap seseorang mempengaruhi orang lain. Cara-cara tersebut bilamana dimiliki seseorang akan mencirikan sikap positifnya.


3. Mengembangkan dan Memelihara Sikap Mental Positif
Pikiran seseorang memancarkan citra keyakinan dan kepastian dirinya. Dalam kenyataannya, orang-orang pada umumnya tidak berbeda satu sama lain. Satu- satunya perbedaan ini adalah bahwa mereka memiliki keyakinan pada kemampuan untuk mampu menghadapi kesulitan hidup dan karena itu mereka melakukan tindakan atas sikapnya. Individu dapat yakin dan percaya diri bilamana memiliki sikap mental positif. Pertanyaannya adalah bagaimana seorang individu dapat memiliki dan memelihara sikap positifnya. Berikut ini beberapa pandangan berkait dengan pendembangan dan pemeliharaan sikap positif :
a. Teori Pemenuhan Diri
Mengatakan bahwa semakin tinggi individu mengharapkan sesuatu, semakin besar kemungkinan ia akan mendapatkannya. Dengan kata lain, jika seseorang berpikir berhasil ia akan beerhasil, jika berencana ia akan gagal, maka ia akan gagal. Dan jika kita berharap positif tentang orang lain dan optimis tentang keberhasilan hidupnya, maka hal itu akan terwujud. Sebagian hal tersebut besar kaitannya dalam membentuk perilaku kita sendiri, bukan hanya itu namun juga bagi orang lain. Penelitian terhadap fenomena prediksi teori pemenuhan diri memberikan banyak bukti bahwa orang yang bertindak dengan cara yang kosisten dengan harapannya tersebut.

b. Dialog Internal (Self Talk)
Apa yang individu dialogkan dalam diri sendiri akir-akir ini merupakan lamgkah kunci dalam proses pengembangan sikap mental yang positif maupun negative. Pernyataan positif kepada diri sendiri seperti, “ Saya akan meluangkan waktu lebih lama daripada yang saya rencanakan , agar semua pekerjaan bisa selesai sebelum waktunya “ atau “ Saya belajar keras dan saya layak mendapatkan nilai A “. Ada juga pernyataan seperti ini, “Saya tidak punya kesempatan lulus ujia statistik”. Dan pernyataan seperti itu harusnya dipecahkan ,dengan mengubah pernyataan negatife menjadi positif. Contoh daripada berkata “ Mengapa pekerjaan ini harus diselesaikan sekarang, toh besok juga masih ada waktu “, lebih baik berkata “ Aku akan menyelesaikan pekerjaan ini meskipun besok masih ada waktu. Hindari menggunakan frase “seharusnya” Sebagai contoh jangan berkata “ Saya seharusnyan melakukannya dengan lebih baik”, tapi berkatalah “ Saya bisa melakukannya lebih baik lagi”.

Dialog internal yang positif akan membantu individu merealisasikan tujuan – tujuan yang ingin dicapai, demikian sebaliknya. Persoalannya adalah bagaimana mengubah dialog internal negative menjadi positif. Dialoh internal negative akan membuat seseorang kehilangan arah kemana ia akan menuju, bahkan mencegah dirinya untuk mengenali dirinya saat menghadapi mproblem, bisa jadi ia tidak akan menemukan solusinya. Sebagai contoh “ Saya benci terhadap mata kuliah satistik”, Saya tidak pandai tidak ada yang suka dengan saya”. Seharusnya pernyataan itu tidak diperlukan. Pendekata yang lebih produktif akan berkata “ Saya tidak puas dengan pekerjaan saya “, Saya rasa saya akan berbicara dengan guru saya untuk melihat adanya peluang mendapatkan nilai A “.Positif-talk berfokus pada fakta bahwa seseorang punya pilihan, selain itu membantu meningkatkan mood dan memotivasi individu untuk melakukan sesuatu pada soituasi yang tidak menguntungkan.

c. Menghadapi Masalah
Ketika muncul masalah segeralah mengahadapi, perhatikan contoh. Eni ingin menemui dosennya, karena ia belum mengerjakan tugas,dia memutuskan menunda sampai berada dalam “susana yang tepat”. Dalam pikirannya selalu risau tentang tugas yang belum ia kerjakan, sehingga ia menempatkan dirinya juah di belakang prestasi rekan-rekannya. Tanpa mengatakan kepadanya secara langsung, ia sendiri telah memunculkan bayangan negative dan suasana hatinya galau sepanjang hari. Jika Eni telah mengatakan kepada dosennya mengenaihal itu, ia akan menerima beban yang lebih rinan meski pada saat menyampaikan keterlambatannya itu dimarahi oleh dosennya, namun sesudah itu ia dapat segera menyeleaikannya denan perasaan yangt lebih nyaman.

d. Melihat Sisi Baik
Hidup ini penuh dengan kebaikan dan keburukan. Karena itu tidak baik untk berkonsentrasi pada hal-hal buruk dan berfokuslah energi anda pada hal-hal yang baik. Sebagai contoh, Jika anda mempunyai teman kampus yang kurang bersahabat sehingga anda merasa tidak senang kepadanya, disisi lain anda merasa tidak senang denan teman tersebut, tetapi jangan menghabiskan seluruh waktu untuk memikirkan tentang bagaimana anda tidak suka dengannya.

Pikirlah tentang transisi dan perbedaan akan membuat perubahan perbincangan diri anda dari negative menjadi positif. Buatlah uaya dengan penuh kesadaran untuk melakukan hal tersebut setiap anda melakukan pernyataan-pernyataan negatif dalam diri. Gunakan kartu indeks kecil untuk mencatat pembucaraan dalam diri anda selama tiga minggu. Caranya, ketika anda mengalami pembicaraan negatife dalam diri anda segeralah mencatat disatu sisi, dan catatlah disatu sisi yang lain pembicaraan dalam diri yang positif.


4. Pembentukan Sikap Sosial Anak
Pembentukan sikap sosial anak dapat terjadi melalui :
a. Pengalaman yang berulang-ulang atau dapat pula melalui suatu pengalaman yang disertai perasaan yang mendalam (pengalaman traumatik), melaliu imitasi (peniruab yang tidak disengaja).
b. Sugesti, yaitu seseorang membentuk suatu sikap terhadap objek tanpa suatu alas an dan pemikiran yang jelas, tapi semata-mata karena pengaruh yang datang dari seseorang atau sesuatu yang mempunyai wibawa dalam pandangannya.
c. Identifikasi, yaitu seseorang meniru orang lain atau suatu organisasi / badan tertentu sifatnya didasari suatu keterkaitan emosional.
d. Meniru dalam hal ini lebih banyak dalam arti berusaha menyamai, yang sering terjadi antara anak dengan ayah, pengikut dengan pimpinan, peserta didik dengan guru, antara anggota suatu kelompok dengan anggota lainnya dalam kelompok tersebut yang dianggap paling mewakili kelompok yang bersangkutan.


Pembentukan sikap sosial anak mengandung tiga komponen, yaitu
a. Kognitif (Konseptual)
Yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan bagaimanan orang mempersepsi objek sikap.

b. Afektif
Yaitu yang berhubungan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap.

c. Konatif
Yaitu komponen yang berkaitan dengan kecenderungan untuk berperilaku terhadap objek sikap.

Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap. Sarwono (200:95) mengemukakan bahwa pembentukan sikap sosial anak dapat melalui empat macam cara :
a. Adopsi, yaitu kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus menerus, lama kelamaan secara bertahap diserap ke dalam diri individu dan mempengaruhi terbentuknya suatu sikap. Misalnya, seseorang yang sejak lahir sampai ia dewasa tinggal di lingkungan yang fanatik Islam, ia akan mempunyai sikap negative terhadap daging babi.
b. Diferensiasi, yaitu dengan berkembangnya intelegensi, bertambahnya pengalaman, sejalan dengan bertambahnya usia, maka ada hal-ahal yang tadinya dianggap sejenis, sekarang dipandang tersendiri lepas dari jenisnya. Terhadap obyek tersebut dapat membentuk sikap tersendiri. Terhadap obyek tersebut dapat terbentuk sikap tersendiri pula. Misalnya, seorang anak kecil mula-mula takut kepada tiap orang dewasa yang bukan ibunya, tetapi lama- kelamaan ia dapatb membeda-bedakan antara ayah, paman, bibi, kakak, yang disukainya.
c. Intregasi,yaitu pembentukan sikap ini terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan satu hal tersebut. Misalnya, seorang dari desa sering mendengar tentang kehidupan kota, ia pun sering membaca surat kabar yang diterbitkan di kota kawan-kawan yang datang dari kota membawa barang-barang yang bagus dan bercerita tentang keindahan. Setelah beberapa waktu, maka dalam diri orang dewasa tersebut timbul sikap positif terhadap kota dan hal-hal yangberhubungan dengan kota, sehingga pada akhirnya ia terdorong untuk pergi ke kota.
d. Trauma, yaitu pengalaman yang tiba-tiba, mengejutkan yang meninggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan. Pengalaman-pengalaman yang traumatis dapat juga menyebabkan terbentuknya sikap. Misalnya , orang yang sekali pernah jatuh dari sepeda motor, selamanya tidak suka lagi naik sepeda motor. Sikap selain dapat terbentuk karena prasangka. Prasangka adalah penilaian terhadap sesuatu hal berdasarkan fakta dan informas yang tidak lengkap. Jadi, sebelum oran tahu benar mengenai sesuatu hal, ia sudah menetapkan penaatnya mengenai hal tersebut dan atas dasar itulah ia akan membetuk sikap.

B. Konsep dan Perilaku Empati
1. Konsep Empati
Kata empathy (Inggris) secara etimologi berasal dari kata Yunani empatheia terdiri dari dua kata yaitu en artinya masuk dan pathos artinya merasa. Empatheia atau empati berarti kasih sayang secara fisik, gairah, keberpihakkan. Empati secara konseptual memiliki banyak definisi dan mencakup spektrum yang luas, mulai dari rasa kepedulian terhadap orang lain, keinginan untuk membantu mereka, mengalami emosi sesuai dengan emosi orang lain, mengetahui apa yang orang lain pikirkan atau rasakan, mengaburkan batas antara dirinya dengan orang lain.

Definisi empati menurut para ahli antara lain :
a) Jean Decety (2004, 2008)
Memaknai empati sebagai kesamaan perasaan yang dialami oleh diri sendiri dan orang lain, tanpa merasa kebingungan antara dua individu.
b) Goldman (1960)
Mendefinisikan empati sebagai kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain secara mental dan memahami emosi dan perasaannya.
c) Heinz Kohut
Empati adalah kemampuan untuk berpikir dan merasa kehidupan dalam batin orang lain.
d) M. Berger (1987)
Mengartikan empati sebagai kemampuan untuk mengetahui pengalaman emosional orang lain dari kerangka acuan dari orang lain, kemampuan untuk mencoba sesuatu yang lain atau untuk menempatkan diri pada orang lain.
e) Nancy Eisenberg (2006)
Mengartikan empati sebagai sebuah tanggapan efektif yang timbul dari penangkapan atau pemahaman keadaan atau kondisi emosional orang lain, sebagaimana yang orang lain rasakan atau yang diharapkan untuk dirasakan.

Selain para ahli diatas, masih ada beberapa ahli lagi yang ikut mendefinisikan pengertian empati ini. Para ahli tersebut antara lain :

a) Carl Rogers (pelopor konseling personal therapy)
Memakai empati sebagai upaya untuk memahami internal frame of reference orang lain secara akurat dengan menggunakan komponen emosional dan makna yang berhubungan dengan seolah-olah “as if” seperti yang dialami orang tersebut, tetapi tidak pernah hanyut kedalam kondisi tersebut. Dengan demikian, empati berarti merasakan suasana hati atau kesenangan orang lain dan memahami penyebab yang dia rasakan tetapi tanpa pernah kehilangan jati diri kita.
b) Simon Baron Cohen (2003)
Mendefinisikan empati sebagai keadaan mangalami “tuning” secara spontan ke pikiran dan perasaan orang lain. Ada dua komponen utama dalam berempati, yaitu : komponen kognitif dan komponen afektif. Komponen kognitif adalah memahami perasaan orang lain dan kemampuan untuk mengambil perspektif mereka. Sedangkan komponen afektif adalah tanggapan emosional yang tepat bagi orang lain yang dalam kedaan emosional.
c) Khen Lampert (2005)
Empati adalah apa yang terjadi pada diri ketika kita meninggalkan tubuh kita sendiri dan menemukan diri kita dalam pikiran orang lain.

Berdasarkan pengertian empati tersebut dapat disintesiskan bahwa apabila sesorang melibatkan kemampuan afeksi, kognisinya dan ditunjukkan dengan perilaku yang nampak seperti bahasa tubuh serta ungkapan untuk masuk kedalam dunia internal perasaan dan pikiran orang lain dalam makna “as if” dan dalam waktu sesaat atau sementara itulah empati.
Empati berbeda dengan simpati. Empatik merupakan suatu bentuk perhatian sedangkan simpati adalah suatu perasaan belas kasih atau keprihatinan terhadap orang lain yang mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan. Oleh karena itu, simpati sering disebut sebagai “merasa kasihan” kepada orang lain (Hatfield et al.1994).

2. Perkembangan Perilaku Empati
Anak pada usia dua tahun biasanya mulai menunjukkan dasar perilaku empati dengan menunjukkan respon emosionalnya dalam berhubungan dengan orang lain (Moriguchi, dkk, 2007). Menurut para peneliti di University of Chicago dengan menggunakan alat functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI) yang dikenakan pada anak usia 7-12 tahun secara alami cenderung menunjukkan adanya perasaan empati terhadap orang lain yang sedang mengalami kesakitan. Selain dikenakan pada anak usia 7-12 tahun meraka juga pernah melakukan penelitian pada orang dewasa
Meskipun anak usia 18 bulan sampai 2 tahun mampu menunjukkan tanda-tanda empati, seperti tindakan berusaha menghibur seorang bayi menangis, menurut teori pikiran sebagian besar mereka tidak menunjukkan secara penuh sebagaimana anak usia sekitar 4 tahun. Anak-anak biasanya mampu memberikan “keyakinan palsu” (False Belife) yang dipertimbangkan sebagai ujian untuk teori pikiran, pada anak usia sekitar 4 tahun. Individu-individu autis sering menemukan penggunaan teori pikiran sangat sulit (mis. Baron-Cohen, Leslie & Frith, 1988 ; Anne Catherine-test).

Penggunaan fMRI untuk menyelidiki anatomi fungsional empati menunjukkan bahwa observasi terhadap bagian jaringan saraf saat kondisi emosional seseorang diaktifkan menunjukkan keadaan yang sama seperti yang terjadi dalam diri mereka (Moriguchi, dkk, 2007). Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang dewasa agresif mengaktifkan sirkuit neural yang mendasari rasa sakit pada tingkat yang sama dan dalam beberapa kasus, bahkan lebih dari subyek kontrol tanpa gangguan. Namun, remaja agresif menunjukkan aktivasi amigdala dan ventral striatum (wilayah otak yang merespons perasaan) yang sangat kuat dan spesifik, yaitu sambil mengamati rasa sakit yang diakibatkan orang lain dan mereka senang melihat hal tersebut. Berbeda dengan kelompok kontrol, para pemuda dengan gangguan perilaku tidak mengaktifkan wilayah otak yang terlibat dalam pengaturan diri dan penalaran moral mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 85% dari Autism Spectrum Desorder (ASD) tidak hanya menunjukkan ketidakmampuan untuk mengidentifikasi keadaan emosional diri sendiri maupun orang lain. Menurut studi fMRI baru-baru ini sindrom, aleksitimia, suatu kondisi saat seorang individu tidak mampu mengenali dan mengartikulasikan rangsangan emosional dalam diri sendiri atau orang lain (Moriguchi, dkk, 2007).
Beberapa studi menunjukkan bahwa orang lebih mampu dan mau berempati dengan orang yang seperti mereka. Empati lebih mungkin terjadi antara individu-individu yang lebih sering berinteraksi (Lavenson dan Hoffman Reuf 1997 dan 2000 : 62). Suatu pengukuran tentang seberapa baik seseorang dapat menyimpulkan isi spesifik dari pikiran dan perasaan orang lain telah dikembangkan oleh William Ickes (1997, 2003). Ickes dan koleganya telah mengembangkan suatu metode berbasis video untuk mengukur keakuratan empatik dan telah menggunakan metode ini untuk menstudi ketidakakuratan empatik pasangan suami isteri yang berperilaku agresif dan kasar, dengan berbagai topik.
Beberapa fisuf seperti Martha Nussbaum menyatakan bahwa membaca novel dapat membuat si pembaca dapat mengembangkan empati dan mengarahkan mereka berlatih lebih baik ke dunia nyata sebagai warga negara. Dalam beberapa karya-karya ilmiah, fiksi, dan fantasi, empati dipahami sebagai kemampuan psikis dan paranormal untuk merasakan emosi orang lain, tetapi berbeda dengan telepati yang memungkinkan seseorang untuk mampu memahami pikiran juga. Seseorang yang memiliki kemampuan disebut juga sebagai ‘empati” atau “telempath”. Scara spesifik empaths adalah kemampuan memprediksi emosi mereka sendiri atau untuk mempengaruhi emosi orang lain.
Pengukuran empati yang paling banyak digunakan adalah self report, terutama dalam penelitian sosial neuroscience adalah Interpersonal Reaktivitas Index (IRI), yang dikembangkan oleh Davis (Moriguchi, dkk, 2007). Ukuran lain adalah Balance Emosional Empathy Scale (BEES) yang terdiri dari 33 item pertanyaan dengan empati emosional (Moriguchi, dkk, 2007).


















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Sikap adalah kecenderungan individu untuk bertingkah laku berdasarkan pengetahuan, perasaan dan kemauan. Oleh sebab itu sikap mengandung tiga komponen yaitu komponen kognitif , komponen konatif , komponen afektif . sikap mempunyai tiga fungsi yakni sebagai instrument atau alat mencapai tujuan, sebagai pertahanan ego, sebagai ekspresi nilai. Sikap positif terkait erat dengan keberhasilan seseorang.
Sikap sosial dapt dibentuk melalui cara adopsi, diferensiasi, integrasi dan trauma. Proses adopsi terjadi bilamana kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus menerus. Proses diferensiasi karena adanya perkembangan intelegensi, pengalaman, sejalan dengan bertambahnya usia. Proses intregasi terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan satu hal tersebut. Proses trauma terjafi bilamana pengalaman yang tiba-tiba mengejutkan, yang meninggalkan kesan mendalam.
Empati adalah kemampuan untuk mengetahui pengalaman emosional orang lain dari kerangka acuan dari orang lain, kemampuan untuk mencoba sesuatu yang lain atau untuk menempatkan diri pada orang lain.
Bagi individu yang berperilaku menyimpang seperti agresif dan autis, kemampuan empati mereka tidak seperti individu normal. Perilaku empati dapat diukur dengan berbagai instrument, namun yang sering digunakan adalah self reporting. Dalam perkembangan teknologi instrument medis seperti FNRI memberi informasi yang sangat signifikan untuk mengetahui kerja saraf otak berkenaan dengan perilaku empati.


DAFTAR PUSTAKA
1. Chasiyah, Chadidjah dan Edy Legoeo.2009.Perkembangan Peserta Didik.LRC FKIP UNS.Surakarta.
2. www.modul-online.php.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar